0 komentar Kamis, 17 Januari 2013 di 12.04 - Edit entry?

Shalat Tahajud : صلاة التهجد‎ Manfaat Shalat Tahajud

Shalat tahajjud : صلاة التهجد‎ adalah salat sunnat yang dikerjakan di malam hari lebih utama dilaksanakan setelah terjaga dari tidur. Ulama memiliki pendapat yang berbeda tentang apakah tidur pertama adalah benar-benar diperlukan atau tidak. Waktu untuk shalat Tahajjud adalah diantara waktu isha'a dan  waktu subuh atau pada sepertiga terakhir malam (QS Al Muzammil : 2-3) yang dikerjakan sedikitnya dua rakaat dan paling banyak tidak terbatas.

Salat tahajjud termasuk sholat sunnah mu'akad (shalat yang dikuatkan oleh syara') yang memiliki keistimewaan dimana bagi orang yang mendirikan salat tahajjud diberikan manfaat, yaitu keselamatan dan kesenangan di dunia dan akhirat, dan diangkat ke tempat yang terpuji, sebagaimana dijelaskan dalam Alquran Surah  Al Al Israa' : 79 :

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا (٧٩
"dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji."
0 komentar di 10.49 - Edit entry?

Asal-Usul Nama Nasi Gandul

Kota Pati tentu identik dan lekat dengan nasi gandul, masakan khas dari kota Pantura ini. Sebenarnya, tak hanya nasi gandul yang melegenda dari kota asal Si Roro Mendut ini. Ada soto kemiri (asalnya dari Desa Kemiri) dan gethuk runting (asalnya dari Desa Runting). Namun, yang paling kesohor yah memang nasi gandul ini. Nasi ini berdiaspora hingga ke Yogyakarta dan Jakarta. Menu ini direkomendasikan Bondan Winarno, wartawan kuliner tenar.
Oh yah. Kalau hendak berburu nasi gandul genuine, silakan menelisik Desa Gajahmati, yang terletak di sebelah selatan Terminal Bus Pati. Adalah Almarhum Pak Melet, yang hingga kini dipercaya sebagai orang yang memopulerkan nasi gandul ini. Memang, Pak Melet sendiri bukanlah pedagang pertama nasi gandul. Awalnya, di tahun 1950-1960-an, para penjaja nasi gandul berjalan kaki sambil menggotong pikulan yang berisi kendil (kuali) kuah gandul di satu sisi, dan bakul nasi di sisi lainnya. Lambat laun, para pedagang lebih memilih menetap dengan membuka sebuah warung atau memanfaatkan ruang depan rumahnya untuk berjualan.